1.Perempuan berambut pirang dan Jinny

 

Di negara barat, perempuan berambut pirang seringkali dijadikan obyek lelucon dan digambarkan sebagai orang yang tidak punya otak alias bodoh. Suatu hari tiga orang perempuan berambut pirang menemukan lampu wasiat dan setelah diusap, keluarlah Jinny dan berkata,

 

“Aku akan mengabulkan satu permintaan untuk tiap orang.”

Si pirang pertama berkata, “Aku ingin IQ-ku naik 20 poin.”

 

Wusshh… jadilah dia perempuan berambut coklat. Si pirang kedua berpikir bahwa itu terlalu drastis, karena itu dia berkata,

 

“Aku ingin IQ-ku naik 10 poin.”

 

Dan Wusshh… jadilah dia perempuan berambut merah. Si pirang ketiga sebenarnya sangat menyukai warna rambutnya. Karena itu dia berkata,

 

“Aku ingin IQ-ku berkurang 20 poin.”

 

Wusshh… jadilah dia lelaki.

 

 

 

2.Lebih pintar

 

Minah pergi ke sungai bermaksud mencuci baju.Ketika baru mulai kegiatannya mencuci, dilihatnya seekor ikan terjepit di antara bebatuan menggelepar-gelepar. Begitu Minah menghampirinya, si ikan berkata,

 

“Kalau kamu menolongku, aku akan mengabulkan tiga permintaanmu. Tapi ingat, apa yang kamu minta akan membuat suamimu mendapatkannya sepuluh kali lipat.”

 

Minah pun menolong ikan tersebut dan minta supaya wajahnya diubah menjadi cantik.

 

“Tapi suamimu akan menjadi paling tampan di dunia,” kata ikan mengingatkan.

“Nggak masalah,” jawab Minah.

 

Abrakadabra… jadilah Minah wanita yang amat cantik. Permintaan kedua, Minah ingin menjadi kaya.

 

“Ingat, suamimu akan sepuluh kali lebih kaya,”kata ikan.

“Ah, nggak apa-apa. Miliknya kan milikku juga.”

 

Abrakadabra… jadilah Minah orang yang kaya.

 

“Lalu permintaan ketiga?” tanya ikan.

“Aku ingin mendapatkan serangan jantung ringan.”

 

 

 

3.Sepatu kulit buaya

 

Seorang perempuan sangat ingin mempunyai sepatu dari kulit buaya. Dia pun pergi ke toko sepatu dan kecewa karena mahalnya.

 

“Mahal amat sih,” tanya si perempuan.

“Kalau ingin murah ya menangkap buaya sendiri sana,” kata si pemilik toko.

 

Terinspirasi oleh perkataan si pemilik toko, perempuan tersebut pergi ke sungai besar di daerah situ sambil membawa senjata api. Beberapa saat kemudian si pemilik toko datang dan terkagum-kagum ketika melihat tiga ekor buaya mati ditumpuk di pinggir sungai.

Sementara itu si perempuan terlihat di tengah sungai sedang membidikkan senjatanya ke seekor buaya lainnya. Suara tembakan terdengar, kemudian si perempuan menyeret buaya keempat yang baru ditembaknya ke pinggir dan kemudian menyumpah,

 

“Sialan! Yang ini pun juga tidak memakai sepatu.”

 

 

 

4.Ciuman tentara

 

Seorang tentara muda bersama komandannya sedang duduk di kereta berhadapan dengan seorang perempuan muda dan neneknya. Suatu ketika kereta api melewati lorong yang gelap selama beberapa menit. Tiba-tiba terdengar suara ciuman dan kemudian diikuti oleh tamparan di pipi. Ketika lorong sudah terlewati dan gerbong kembali terang, keempat orang duduk diam seolah tidak terjadi apa-apa.

 

Si nenek berkata dalam hati, “Kurang ajar sekali tentara muda itu. Syukurlah cucu perempuanku menamparnya.”

 

Komandannya berpikir, “Tak kukira anak buahku seberani itu mencium perempuan yang tak dikenal. Dan aku yakin perempuan itu tak menyangka kalau tamparannya mengenai pipiku.”

 

Pikir si perempuan, “Aku senang dicium oleh tentara muda itu. Ah, mudah-mudahan bukan nenekku yang menamparnya.”

 

Si tentara muda menahan senyum dan berkata dalam hati, “Benar-benar saat terindah dalam hidupku. Bisa mencium perempuan cantik dan sekaligus menampar komandan.”

 

 

 

5.Logika

 

Di sebuah ruang kelas, para mahasisawa sedang mengikuti mata kuliah Filosofi. Dosen yang mengajar mencoba melemparkan topik diskusi tentang Tuhan.

“Ada yang pernah melihat Tuhan?” tanya si dosen. Semua diam tak menjawab.

“Ada yang pernah mendengar Tuhan bersuara?” si dosen bertanya lagi. Kali ini pun tak ada yang menyahut.

“Ada yang pernah menyentuh Tuhan?” tanya dosen. Semua diam.

“Kesimpulannya tidak ada Tuhan.”

 

Terdengar gumaman protes, sampai akhirnya seorang mahasiswa berdiri dan

bertanya, “Ada yang pernah melihat otak Pak Dosen?”

Tak ada jawaban.

“Ada yang pernah mendengar otak Pak Dosen?”

Tak seorang pun menjawab.

“Ada yang pernah menyentuh otak Pak Dosen?”

Sekali lagi hening.

“Kesimpulannya Pak Dosen tidak punya otak,” kata si mahasiswa