Dari judulnya saja sudah dapat ditebak, saya tidak akan membahas lebih jauh apa maksud dari judul tersebut. Langsung saja saya ceritakan apa yang terjadi.

 

Kisah ini berawal ketika saya mendapatkan sebuah masalah besar yang ada di perusahaan. NG atau produk gagal yang dihasilkan oleh perusahaan sangat besar. Saya sebagai engineer disana mencoba menyelesaikan masalah tersebut. Masalah muncul dari banyaknya serpihan kaca yang jatuh ke produk, sehingga pada pengecekan visual mengalami banyak penurunan produk OK.

 

Saya kemudian berkonsultasi pada engineer-engineer yang ada di noritake, mulai dari Ikedo, Pak Ali, Mas Pras, Mas Handoko, Mas Eko. Mereka banyak memberi masukan kepada saya. Saya diberi banyak masukan untuk melakukan sebuah tes perbandingan yang dapat mengurangi tingkat panas dari keramik setter ke kaca (glass setter). Sayapun membuat 3 buah sample yang akan saya tes langsung di ruang produksi, terutama pada area drying karena pada area tersebut paling banyak kaca yang pecah.

 

Saya melakukan sebuah tes terhadap kaca-kaca yang digunakan pada produksi dibantu oleh teman-teman yang saat itu satu shift dengan saya. Saya melakukan test pada suhu ambient (suhu lingkungan) sekitar 35oC. Cukup panas hingga membuat saya berkeringat sangat banyak hingga merembes pada mujinggi yang saya gunakan. Fyuh….

 

Saya melakukan test tersebut berbarengan dengan proses produksi yang sedang berlangsung, jadi hasil test tidak akan berbeda jauh dari produksi yang sedang dilakukan. Operator pada mesin drying saat itu ada 3 orang saja dan semuanya adalah cewek. Operator cowok yang ada didalam ruang produksi hanya ada 2 yaitu pada 5pin dan trimming serta 2 leader produksi. Jadi sisanya adalah cewek semua. Yah, saya cukup menikmati test tersebut karena lumayan bisa dikelilingi oleh para cewek yang ada disana. Tetapi hal itu tampaknya mulai berubah, katanya sekarang jumlah cowok yang ada disana mulai ditambah. Jadi proporsi-nya mulai berubah (saya tidak tahu persisnya karena sudah tidak bekerja disana lagi).

 

Karena memang suhunya lumayan panas saat proses produksi berlangsung, terutama pada daerah drying tempat saya melakukan test, para operator sering membuka maskernya karena sangat gerah. Masker yang digunakan tidak tembus oleh udara sehingga menyulitkan penggunanya untuk bernapas. Apalagi ditambah suhu yang panas, mereka pastinya lebih sering membuka maskernya. Membuka masker saat produksi sebenarnya dilarang, tapi memang karena gerah umumnya mereka membuka masker secara diam-diam. Harusnya seh perusahaan lebih perhatian mengenai hal ini, tetapi tampaknya masih sulit karena ada hal yang masih harus dipikirkan.

 

Nah, pada saat panas-panasnya itu, tiba-tiba saya melihat sesuatu yang menyenangkan. Salah satu operator yang bekerja di-drying area membuka maskernya. Saya melihat senyum manis dari salah satu operator cewek yang membuat jantung ini tiba-tiba berdegup sangat kencang. Saya kaget, ternyata ada juga ya cewek sini yang berhasil membuat jantung ini berdegup kencang (terakhir kali adalah saat bertemu dengan iin di jogja dulu). Dalam hati saya berkata, “Kayaknya ada yang salah neh sama neh cewek. Kok bisa dia bikin saya deg-degan hanya dengan melihat senyumnya aja”. Akhirnya saya memdekati dia dan berkata, “Maskernya dipake yang bener, pak ali (manajer produksi) kesini tuh”. Padahal pak ali tidak ke area drying, saya hanya ingin test yang berlangsun ini tidak terganggu oleh hal-hal yang menyenangkan aja. Akhirnya saya menyelesaikan test dalam 2 hari saja, saya telah mendapatkan kesimpulan cara yang baik untuk mencegah kaca lebih cepat pecah. Saya langsung menerapkannya pada proses produksi dan menerapkannya pada kaca-kaca yang digunakan.

 

Saya masih penasaran dengan operator yang membuat saya deg-degan, saya mulai mencari tahu siapa dirinya. Saya tidak tahu siapa namanya, dia bekerja di shift berapa dan saya tidak ingat ciri-ciri fisiknya (maklum, saat produksi berlangsung semua operator tertutup oleh mujinggi dan hanya matanya yang membedakan). Wah, agak sulit begini caranya. Tapi bagi saya ini adalah tantangan yang menarik, mencoba menemukan siapa dirinya dan berapa no hapenya.

 

Temen-temen engineer dan operator lain tidak tahu kalo saya mulai mencari informasi mengenai dirinya. Saya melihat jadwal pembagian kerja minggu lalu dan minggu ini, karena tidak tahu namanya, saya tetap tidak tahu dia sekarang bekerja di shift berapa dan pada bagian apa. Wah, kacau begini caranya. Tetapi namanya juga jodoh, kalo ketemu g diduga. Ternyata saya masih ingat senyumannya dan mimik wajahnya. Saat pergantian shift, saya baru tahu kalau dia masuk di shift 2. Saya segera mencari tahu siapa namanya, saya melihat tulisan pada kerah belakang pada mujinggi yang dia pakai. Kalo g salah namanya NURMALA, maklum lah udah lupa (g mau diinget lagi).

 

Oh, itu toh namanya dia. Setelah mengetahui namanya, saya mulai mencari tahu berapa no hapenya. Sebelum saya mencari no hapenya, saya mencari tahu siapa teman-teman dekatnya. Melalui teman-temannya, saya dapat mencari no hapenya dengan mudah. Saya memperhatikan dia dekat dengan siapa saja dan mulai mencari tahu seperti apa dirinya. Saya g mungkin menanyakan langsung padanya, bisa jadi gosip hebat yang luar biasa dipabrik nantinya. Makanya saya hanya bertanya menyerempet sedikit-sedikit pada teman-temannya. Meski akhirnya saya berhasil mendapatkan no hapenya, saya tidak langsung mencoba menghubunginya. Saya mau cari info yang lebih banyak dulu mengenai dirinya.

 

Saya mengetahui kalo dirinya masih jomblo dan juga mencari pasangan. Wew, kebetulan sekali….

 

Pada suatu minggu ketika teman-teman engineer diperbolehkan untuk lembur, saya males benget untuk mengambil lembur. Saya sudah pasti tahu, lemburan yang saya ajukan pasti akan ditolak oleh pak ali. Makanya saya tidak lembur dan pulang ke bekasi, lagipula dibekasi saya bisa malem mingguan dengan adik saya. Kan lumayan buat menghabiskan waktu liburan akhir pekan.

 

Pada hari seninnya, saya mendapatkan sebuah salam dari seseorang. Dia menitipkannya pada teman sekamar kontrakan saya, agus aryono.

 

“Oi, bro. Ada salam tuh buat kmu.”

“Salam dari siapa?”

“Dari temen kita. Anak produksi lah.”

“Wa’alaikum salam. Siapa seh?”

“Itu, anak firing. Masih baru seh katanya.”

“Iya, namanya siapa?”

“Kalo g salah seh namanya nurmala.”

“Nurmala? Anak firing? Kayaknya g ada deh anak firing yang namanya nurmala?”

“Ya g tau lah. Pokoknya dia anak firing yang masih baru.”

“Emang kapan dia titip salam?”

“Pas waktu saya nge-las di backyard, disitu dia lagi bikin setter buat produksi. Dia tanya ama saya, ‘Mas gatot kemana? Kok g keliatan?’. Saya jawab aja, ‘Dia kebekasi, lagi ada urusan keluarga’. Terus dia titip salam aja buat kamu, bro.”

“Oh, gitu ya ceritanya.”

“Iya.”

“Yang ngelemburin anak-anak produksi kemarin siapa?”

“Kalo g salah seh mas eko. Coba aja tanya sama dia.”

“Oke, bro. Makasih udah disampein.”

“Sama-sama.”

 

Setelah mengetahui info dari agus, saya mencoba bertanya pada mas eko mengenai hal ini.

 

“Tot, kemarin ada yang titip salam buat kamu.”

“Siapa mas?”

“Ga tau, tot. Anak baru firing.”

“Oh, iya. Makasih atas salamnya.”

 

Ternyata cinta tidak bertepuk sebelah tangan, dia berani menitipkan salam padaku melalui teman-temanku. Kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan, saya mulai mencoba mendekatinya. Tapi bagaimana caranya agar pesan dari hati saya bisa sampai ke hatinya juga?

 

Kesempatan itu muncul juga. Teman sekamar saya sedang suka dengan salah satu operator juga, namanya adalah yulis. Dia adalah visual operator produksi dan satu shift dengan si nurma. Pada suatu jumat malam, agus mengajak saya untuk bermain ke kosan dia yang terletak berada di gang seberang jalan. Agus bilang, dia maen ke sana hanya untuk silaturahmi aja sebelum dia berangkat kerja di shift 3. Sebelum pergi ke kontrakan si yulis, saya sempat membeli martabak manis dan martabak telor. Kalo si nurma titip salam doang, saya titip salam dan makanan. Yah, sekalian biar bisa akrab.

 

Ketika sampai di kontrakan yulis, dia ternyata tidak tinggal sendiri. Ada anak noritake lainnya yang juga tinggal bersamanya, namanya ai nurnenah atau ai atau juminten (jutek). Wah, bisa berat neh kalo ketauan sama si ai, gosip bisa menyebar dengan dahsyat. Tapi apa mau dikata, udah terlanjur beli banyak. Masa mau dibuang gitu aja? Sebagian kami makan di kontrakan yulis, sebagian lagi belum dimakan sama sekali. Jadi, ya dikasih aja sama temen-temen di shift 3.

 

Gatot, “Yulis, bisa titip g?”

Yulis, “Titip apaan?”

Gatot, “Ini martabak kasih ke si nurma.”

Ai, “Cie…. Ternyata mas gatot ya…”

Yulis, “Cuma titip ini doang? G titip yang laen?”

Ai, “Mas gatot suka sama si NORMA toh.”

Gatot, “Ya udah, kalian udah tau kan? Diem dulu aja. G enak sama temen-temen.”

Yulis, “Trus ini kalo ditanya dari siapa, apa yang kujawab?”

Gatot, “Bilang aja dari temen, Agus yang beliin buat temen-temen shift 3.”

Ai, “Ah, pake malu-malu. Norma…. Norma…”

Agus, “Lis, bilang aja dari temen-temen.”

Yulis, “Yakin neh mas, Cuma titp ini doang?”

Gatot, “Ya udah, titip salam sekalian.”

 

Wah, gawat. Yulis dan ai udah tau siapa incaran saya di pabrik, saya hanya berharap mereka tidak menyebar gosip aneh-aneh mengenai saya dan nurma. Tapi apa mau dikata, ucapan sudah terlontarkan, hanya berharap tembok noritake tidak mendengar gosip. Pada hari sabtu saya masuk lembur, tidak disangka dia masih ada di pabrik dan baru mau pulang kerja. Ketika kami lewat dan berpapasan, dia mengucapkan ‘terima kasih’ atas makanan yang telah diberikan. Saya hanya tersenyum dan mengucapkan ‘sama-sama’ saja.

 

Hari-hari barikutnya bisa ditebak sesuai dugaan, gosip mengenai saya dan dia menyebar se-antero pabrik dari mulai pihak manajemen sampai operator produksi mulai berbicara. Pokoknya kacau banget lah.. Dengan beredarnya gosip tersebut, saya makin sulit mendekatinya. Setiap kata-kata dan perbuatan saya pasti dihubung-hubungkan dengannya. Malah ada yang bilang kalo saya udah tunangan dan siap menikah dengannya. Beuh… Dahsyat banget. Saya kenak sama keluarganya saja belum, kok udah ada gosip santer saya siap nikah dengannya.

 

Kurang lebih dua bulan saya melakukan pdkt padanya, tapi progressnya selalu jalan di tempat. Saya sangat sulit untuk hanya mengajaknya jalan keluar berdua saja atau tidak diijinkan maen kerumahnya. Saya seh belum tahu alasan dia sebenarnya. Saya pernah menanyakannya, apakah dia masih single dan belum punya pacar? Dia menjawab kalo memang dia masih sendiri. Dan salah satu engineer yang bisa dibilang dekat dengannya (namanya rizki) yang juga membenarkan kalo dia masih single dan sedang mencari pasangan.

 

Ada yang aneh jika saya tidak diperkenankan untuk maen kerumahnya atau tidak mau saya ajak keluar sekedar jalan-jalan berdua saja. Saya berpikiran kalo saya memiliki saingan diluar sana… Wew, persaingan mulai berat.

 

Akhirnya saya mencoba untuk mengetahui apa maksud dia sebenarnya. Saya ingin mendapat penjelasan yang serius darinya. Oleh karena itu, saya berencana mengadakan jalan-jalan ke bandung bersama teman-teman. Saya melakukan survey pada kota bandung dan mencari lokasi yang tepat untuk dapat sekedar jalan berdua saja dengannya nanti. Setelah saya menemukan tempatnya, seperti biasanya saya menjalankan misi sebagai Event Organizer untuk jalan-jalan ke bandung. Pada saat saya membuka tempat bagi yang mau ikut jalan-jalan, banyak anak-anak engineer dan operator yang berencana ikut ke bandung. Saya langsung mendata dan menarik uang iuran patungan buat sewa mobil dan isi bensin dan bayar tol.

 

Uang telah terkumpul, orang-orang yang mau ikut sudah didata dan mobil sewaan yang akan kami gunakan nanti sudah dipesan. Kalo bagini caranya, misi bisa sukses. Kami berencana pergi ke bandung pada hari sabtu 26 mei 2010, tiga hari setelah hari ulang tahunnya.

 

Di bandung nanti saya tidak berencana untuk menembak dia, saya hanya ingin minta penjelasan dia dulu mengenai sikap dia selama ini. Saya masih dibuat bingung dengan sikapnya saat itu. Makanya saya ingin semuanya jelas dulu.

 

Pada hari ulang tahunnya, saya memberikan jam tangan padanya. Yah, lumayan buat iseng-iseng menghabiskan sisa uang lemburan. Tapi, tampaknya ia tidak terlalu senang atas pemberian saya. Saya tidak melihat ekspresi istimewa darinya. Saya juga mengetahui melalui facebooknya, ada orang lain juga yang memberikan kado istimewa padanya.

 

Pada hari jumat sore, pulang kerja dari pabrik saya dan dia pulang dalam satu bus jemputan. Saat itu anak-anak di bus sengaja sekali tidak memberikan tempat duduk lain buat saya, mereka hanya menyisakan satu tempat duduk yang ada di sebelahnya nurma. Mereka memaksa sekali saya harus duduk disebelahnya meskipun saat itu saya melihat mimik wajahnya menyatakan dia merasa tidak nyaman sekali dikerjain oleh teman-temannya. Tapi mau bagaimana lagi, sisa tempat duduk hanya ada disitu saja. Terpaksa saya duduk…

 

Sepanjang perjalanan dia hanya menerima telepon dari seseorang. Tampaknya saya sudah tahu, itu pasti dari saingan saya. Saya tidak mau terlalu menanggapinya dan hanya mendengarkan musik dari mp3 hape saya. Kurang lebih 10 menit dia menelepon, dia baru berbicara pada saya.

 

“Mas, makasih ya atas kadonya.”

“Oh, iya. Sama-sama.”

“Mas, ada lowongan g di tempat lain?”

“Hmm… Kurang tau ya. Emang buat posisi apa dulu?”

“Ya operator biasa aja.”

“Saya g janji ya bisa kasih. Tapi nanti saya tanya dulu sama temen-temen saya. Rencana mau kerja didaerah mana?”

“Cikarang kalo bisa.”

“Hmm.. Cikarang ya. Ada seh temen saya yang kerja disana. Nanti saya tanya dia. Kalo enggak, coba kamu buka internet di jobsdb atau jobstreet. Banyak tuh lowongan disana.”

“Mas kok g tanya buat siapa?”

“Emang kenapa saya harus tanya? Saya kalo bisa bantu seh siapa aja yang bisa saya bantu. Ya udah saya tanya, emang buat siapa gitu?”

“Buat aku.”

“Kenapa kamu mau cari di tempat lain? Bukannya udah enak disini?”

“Aku pengen aja belajar hidup mandiri jauh dari orang tua.”

“Kenapa g kuliah sekalian?”

“Pengennya seh gitu, tapi ada masalah lain. Kok mas baik banget seh?”

“Baik? Ah, biasa aja. Saya percaya kalo kita baik sama orang, kebaikan itu akan kembali pada diri kita sendiri.”

“Mas, aku mau ngomong serius sama kamu sekarang.”

 

Mendengar perkataan seperti itu, saya kemudian melihat wajahnya. Apakah benar dia mau ngomong serius ditempat umum kayak gini.

 

“Ngomong serius? Kamu yakin mau ngomong disini?”

“Iya yakin.”

 

Seperti biasa, saya selalu melontarkan pertanyaan dua kali untuk meyakinkan dia.

 

“Sekali lagi, kamu yakin mau ngomong disini?”

“Yakin.”

 

Waduh, saya harus siap malu ditempat umum neh. Entah mau ngomong apa dia ditempat umum kayak gini. Temen-temen di bus pasti mendengar semua pembicaraan saya dan dia. Tapi karena dia serius untuk membicarakannya sekarang, saya harus mendengarkannya juga.

 

“Ya udah. Mau ngomong apa. Silahkan..”

“Mas, sebelum kita pergi ke bandung, aku pengen meluruskan aja.”

“Apa gitu?”

“Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku ingin kita hanya sebagai adik-kakak dan temen biasa aja.”

 

Jeleger….. Waduh, parah. SAYA DITOLAK SEBELUM NEMBAK….

Kacau gini caranya, rencana ke bandung pada hari minggu besok bisa gagal total. Saya benar-benar shock mendengar kata-katanya, saya tidak mengira dia akan berkata seperti itu didepan umum. Benar-benar jatuh saya saat itu. Saya hanya tersenyum saja, meski hati ini sakit rasanya tersayat-sayat. Tiba-tiba dari kursi belakang saya ada yang berteriak,

 

“NURMA, TOLONG JENDELANYA DIBUKA LEBIH LEBAR LAGI….”

 

Gubrak… Beneran, temen-temen di kursi belakang kami mendengar semua perkataan yang dia ucapkan. Memang karena saat itu jendela bus tertutup rapat, sehingga suara bising kendaraan tidak terdengar dan percakapan kami dapat jelas terdengar. Kemudian nurma segera membuka jendela yang berada disampingnya. Setelah dia membuka jendelanya, saya kemudian berbicara padanya.

 

“Hmmm…. Disini kamu silakan bicara serius sama saya. Tapi, nanti saya akan gantian minta bicara serius sama kamu.”

“Kenapa g disini aja, mas?”

“Enggak ah, g enak sama temen-temen.”

 

Akhirnya dia berbicara banyak sekali, tapi tampaknya saya sudah sakit hati. Saya tidak mendengarkan semua pembicaraan dia, saya hanya tersenyum dan berkata ‘iya’ saja saat itu. Setelah dia selesai berbicara, saya kemudian berkata padanya.

 

“Hari sabtu besok ada acara g?”

“Enggak kok.”

“Saya mau bicara serius sama kamu. Kita ketemuan di situ buleud ya?”

“Iya. Boleh.”

 

Eh, baru kali ini saya ajak dia jalan keluar berduaan dia tidak menolak dan langsung meng-iya-kan ajakan saya. Ada perubahan yang sangat drastis padanya. Setelah sampai di depan perumahan usman, saya dan agus langsung turun dan membeli makan malam. Pokoke saya bete banget lah di hari tersebut.

 

Hari sabtu saya masuk lembur, tapi tampaknya saya tidak punya semangat kerja yang sangat besar saat itu. Saya hanya memikirkan, kira-kira pertanyaan apa ya yang nanti akan saya ajukan padanya? Akhirnya saya mengambil dua buah pertanyaan saja yang nanti akan saya ajukan. Saat pagi sebelum kerja, saya menelepon dia.

 

“Halo, assalamualaikum.”

“Waalaikum salam. Ada apa mas?”

“Enggak, saya mau pindahin tempat kita ketemuan aja. Kalo kita ketemuan di 711 aja.”

“Emang kenapa g di situ buleud aja?”

“Kalo sore nyamuknya banyak. Mending di 711 aja.”

“Iya. Nanti sore di 711. Jam berapa?”

“Jam 5 aja. Ok?”

“Ok.”

 

Setelah janjian dibuat, saya langsung kerja lembur. Sore hari jam 4.15 saya langsung pulang kerja dan meluncur ke 711 menggunakan mobil jemputan perusahaan. Yang ada dimobil saat itu masih rame, mereka tahu bahwa saya berencana ke 711 menemui seseorang. Saat saya melihat 711, ternyata dia sudah sampai duluan. Tampaknya teman-teman yang ada dimobil tidak menyadari kalo nurma sudah ada didepan 711, mereka tidak mengenalnya sama sekali. Daripada ketahuan dengan siapa saya bertemu, saya minta diturunkan agak jauh dekat atm BCA. Ketika saya turun, ada yang menyoraki semoga berhasil.. Terima kasih, teman.

===========================================

…… Kejadian yang ada didalam rumah makan 711 tidak dapat saya ceritakan karena saya telah berjanji untuk tidak menceritakannya pada siapapun. Tapi tampaknya tidak juga, hanya kepada beberapa orang saja saya menceritakan kejadian tersebut …..

===========================================

Setelah kami menyelesaikan pembicaraan, kami segera pergi dari tempat tersebut dan langsung menunggu angkot di depan rumah makan 711. Saya sengaja untuk tidak naik satu angkot dengannya, saya sudah dibuat sakit hati olehnya. Kan wajar aja kalo naik angkot terpisah, daripada muka ini cemberut terus didepannya. Sesampainya saya di kosan, saya malah mendapati teman sekamar saya terserang sakit mata karena mengelas tanpa menggunakan pelindung mata. Aduh biyuh…. Nesake tenan arek kie. Matane bengkak… Terpaksa deh, malam itu saya harus merawat dua macam sakit, sakit hati saya dan sakit matanya si agus.

 

Saya sudah merancang bagaimana caranya melupakan dia. Cukup dibutuhkan waktu satu minggu saja saya dapat melupakannya, meskipun setiap hari kami selalu bertemu didalam bus jemputan dan bertemu didalam pabrik. Saya sakit hati cukup 3 hari saja (Hari minggu, senin dan selasa) dan melupakan 4 hari saja (rabu, kamis, jumat dan sabtu). Jadi kalo ditotal hanya seminggu saja saya melupakannya. Dimata saya, saat ini dia hanya seorang operator produksi saja sama seperti operator yang lainnya. Jadi, saya sudah tidak mau menganggap dia lebih. Satu hal yang saya hindari darinya adalah melihat dia tersenyum. Saya pertama kali jatuh hati dan bergetar hati jika melihat dia tersenyum, makanya saya sangat menghindari melihat senyumannya.

 

Saya benar-benar sudah tidak berminat mengejarnya kembali, karena saya memiliki pengalaman yang menyakitkan mengenai hal ini. Gosip mengenai saya mengejar nurma masih kencang beredar. Tapi saya mulai memberikan konfirmasi kepada orang-orang yang masih mempercayai gosip tersebut. Ketika ada orang yang masih menghubung-hubungkan saya dengannya, saya mendekati orang tersebut secara personal dan memberi tahu bahwa saya tidak ada hubungan spesial lagi dengannya. Akhirnya gosip sedikit mereda secara perlahan dan saya mulai tenang dalam bekerja.

 

Lalu bagaimana rencana jalan-jalan ke bandung?

 

Rencana jalan-jalan ke bandung langsung saya batalkan secara sepihak. Wajar aja lah, saya saat itu benar-benar sakit hati dan tidak fit. Ditambah agus kena sakit mata, jadi perjalanan di batalkan. Tapi tenang saja, saya langsung menggantinya dengan perjalanan ke Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Kemayoran pada hari minggu selanjutnya (kan pada hari minggu ini semua orang sedang sakit). Saat jalan-jalan ke PRJ, anggota yang ikut ada 8 orang. Mereka adalah Gatot, Ayuk (adik saya), Agus, Yulis (gebetannya si agus), mas Eko, Augusti, Lelly, dan Rindi.

 

Lho? Kemana si nurma? Kok g diajak ikut ke PRJ?

 

Enggak ah, saya kan sedang dalam proses melupakannya. Makannya saya menggantikan dia dengan adik saya. Saya selalu mengajak adik saya, Ayuk, jika sakit hati karena sesuatu. saya sering curhat padanya mengenai semua hal, mulai dari urusan cewek hingga pakaian dalamnya. Parah ya? Tapi enggak juga kok, itulah kami….😀

 

Apa kamu masih sempat mencari tahu keadaan dia setelah apa yang terjadi di 711?

 

Ya, saya pernah. Saya sempat bertanya pada salah satu sahabatnya, apakah dia mengetahui keadaan nurma yang sekarang? Dia bilang kalau saat ini nurma sedang dekat dengan salah satu cowok. Dia menyalahkan saya kalau saya ini orangnya terlalu mengekspose dan membuat dirinya tidak nyaman. Akhirnya dia lebih merasa nyaman dengan orang lain yang juga mendekatinya. Bagaimana caranya hingga saya yang dipersalahkan? Namanya juga pabrik, isinya cewek pula. Yah begitulah yang terjadi. Saya juga tidak kuasa menahan laju gosip yang menyebar.

 

Kini saya menyebut dia dengan sebutan N3.

Kok bisa?

Ya karena ada N1 dan N2.

Siapa mereka?

Mereka adalah N***A.

Huh??? Maksudnya?

Ya, pasti tau lah. N1 adalah NediA, N2 adalah Novi A dan N3 adalah NurmA. Kayaknya itu nama semua adalah kutukan buat saya. Semuanya hanya bikin saya sakit hati…. T_T

 

Entahlah. Itu semua jodoh dari Tuhan saya dipertemukan dengan mereka. Tuhan memang aneh memberikan kita sebuah pelajaran dan pengalaman berharga. Saya masih berterima kasih padanya atas segala nikmat dan rezekinya sampai saat ini, saya masih kuat berdiri dan berani melangkah maju.

 

Dari pengalaman yang baru saja saya alami, saya mendapatkan sebuah pelajaran yang nantinya akan saya gunakan dimasa depan. Buat info saja, salah satu diantara cewek-cewek yang ikut jalan-jalan ke PRJ nantinya akan menjadi pacar pertama saya. Siapakah dia? Kita lihat saja kelanjutan ceritanya.

 

Yah, begitulah cerita saya kali ini. Kita sambung di lain waktu.

Gtt_Bekasi.