ayat-ayat cinta?

February 20th, 2008 by gtt-bekasi

Ini tulisan saya setelah beberapa lama saya vakum. Saya bersemangat kembali untuk menulis, karena sesuatu yang baru saja saya lihat. Ya, saya baru saja melihat film AYAT-AYAT CINTA. meskipun belum pernah membaca novelnya.

Film tersebut baru saja saya dapatkan dari teman. Film itu benar-benar menyentuh hati saya yang paling dalam. Hingga melupakan semuanya dan meluapkan emosi yang saya sembunyikan sampai saat ini. Tanpa sadar, air mata jatuh dan mengalir.

Pada bagian Maria mengetahui Fahri telah menikah dengan Aisyah, tanpa sadar saya juga ikut sedih dan berlinang air mata. Entah mengapa emosi saya jadi meluap. Mungkin karena pada bagian tersebut cerita dalam film itu mirip dengan kisah hidup saya. Ya, memang sangat mirip dengan kisah hidup saya.

Saya sangat merasakan sakit hati yang dialami oleh Maria. Penderitaannya hampir sama dengan yang saya alami. Maria merasa kehilangan segalanya ketika mengetahui Fahri telah menikah. Dalam hal ini, Maria adalah sahabat, tetangga, teman dan sekaligus orang yang menyukai Fahri.  Maria sangat terpukul dan merasa dunia ini kejam.

Ya, bagian itu mirip dengan kisah hidup saya. Saya merasa terpukul ketika saya mengetahui wanita yang saya kenal sebagai sahabat, teman dan sekaligus orang yang saya sukai telah ada yang ingin menikahinya. Saya merasa dunia ini kejam. Saya merasa Tuhan tidak menurunkan keadilan pada saya. Malam ke-lima bulan Ramadhan menjadi malam paling menyakitkan dalam hidup saya.

Saya memang buta dan tidak mengerti apapun mengenai cinta. Saya merasa tertipu dan dibodohi. Saya memang lugu dan tidak pernah mengalami nikmatnya pacaran. Selama ini dia menyembunyikan hal tersebut dari saya. Saya memang bodoh.

Selama ini saya selalu jujur pada siapapun. Apapun yang orang tanyakan pada saya, saya selalu menjawabnya dengan apa adanya. Tetapi dia berbeda, dia tidak merasa bahagia ketika ada orang yang bersedia menikahinya. Dia berusaha menutupi hal itu dari saya.

Mungkin karena saya bodoh, maka Tuhan mengajarkan saya melalui pengalaman tersebut. Meskipun sangat menyakitkan, saya berpikir kembali ternyata Tuhan masih mau mengajarkan hambanya yang bodoh ini mengenai cinta dan kehidupan.

Dan saya belajar,
Bahwa saya tidak dapat memaksa seseorang untuk mencintai saya. Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai….

Dan saya juga belajar,
Bahwa saya tidak boleh berhenti belajar…..